Wednesday, July 4, 2007

Menakar kepekaan sosial dan lingkungan

Oleh: Arwani Syaerozi

Menarik dicermati fenomena - fenomena mutakhir yang sedang dan selama ini terjadi di Nusantara, saat kebebasan dalam segala lini kehidupan menjadi “ argumen murahan ” oleh berbagai kalangan dalam rangka menjustifikasi ekpresi dan tindakannya.

Geliat over acting “ kebebasan “ tersebut sangat tampak sekali, misalnya kasus terakhir yang mencuat dan sempat menempati berita utama di media nasional baik cetak maupun elektronik yaitu seputar rencana penerbitan majalah playboy edisi Indonesia. Pro - kontra opini publik pun bermunculan, di mana kalkulasi penentang rencana ini lebih banyak dari pada para pendukungnya, namun pihak pencetus tetap bersikukuh memperjuangkan program kontroversialnya dengan dalih utama terbukanya nuansa kebebasan.

Selain fenomena di atas, ada sisi lain yang menurut saya lebih menarik untuk diperhatikan, yaitu seputar kondisi kesejahteraan masyarakat, kondisi lingkungan hidup di tanah air yang harus kita wariskan secara turun temurun kepada generasi penerus. Sebab akhir - akhir ini telah mengalami kerusakan di berbagai tempat, sehingga kita yang berada jauh di luar negeri sering mendengar kabar duka dari peristiwa bencana longsor, kebanjiran, kelaparan, kerusakan lingkungan akibat limbah - limbah industri, dan munculnya wabah – wabah penyakit mematikan.

Sebut saja misalnya, tragedi kemanusiaan busung lapar yang melanda ribuan bayi di Sumatera Barat (Sumbar) dan beberapa daerah lainnya, semenjak tahun 1999 sampai sekarang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia. Tereksposnya kematian beberapa warga di Papua disebabkan oleh kelaparan, telah membuat kita menjadi bertanya - tanya, sedemikian parahkah ketidak merataan “ pembagian kue “ di Negara kita ? Gangguan saluran pernafasan pada sebagian masyarakat di Pekanbaru yang disebabkan oleh asap tebal kebakaran hutan, atau berjatuhannya korban penyakit Demam berdarah (DBD) yang disebabkan oleh faktor buruknya lingkungan.

Bahkan yang lebih dahsyat lagi, pemandangan mengharukan yang terjadi baru – baru ini seputar proses penyemprotan zat antiseptik pada setiap kendaraan dari Indonesia yang akan masuk ke wilayah Malaysia melalui perbatasan di Kalimantan Barat. (www.gatra.com 14/03/2006), hal ini adalah fakta kuat betapa serius dan peliknya isu sosial dan lingkungan di tanah air.

Keterpurukkan dan problem warisan karakter :


Hans Fink dalam bukunya “ Social Philosophy “ menjelaskan bahwa : “ Proses sosial tidak lain adalah kehidupan umat manusia, kelahirannya, prokreasi dan kematiannya, serta produksi dan distribusinya, yang senantiasa berlangsung selama kehidupan manusia masih berlangsung “. (Social Philosophy, Hans Fink, hlm. 02, diterjemahkan oleh Sigit Djatmiko, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2003).

Dalam hal ini sifat dasar manusia adalah fitri, suci dan baik. Mereka menjadi buruk bisa karena kelemahan pribadinya yang mudah dikalahkan oleh hawa nafsu, atau mungkin juga karena faktor - faktor eksternal, seperti pengaruh lingkungan keluarga atau sistem budaya masyarakatnya. Artinya sistem sosial masyarakat itu sendiri ikut andil dalam memformat karakteristik seseorang.

Maka tidak heran jika Hans pink kemudian menyimpulkan bahwa : “ hidup kita adalah kelanjutan dari kehidupan para bapak dan ibu kita terdahulu “ (Ibid, hlm. 03). Di sisi lain Menkokesra Aburizal Bakrie mewakili presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di hadapan anggota DPR mengakui ada beberapa gejala yang menghambat proses penyejahteraan masyarakat selama ini, yang merupakan warisan dari masa silam (www.gatra.com 07/03/2006).

Pada tahapan ini bukan berarti saya memvonis problem moralitas dan gejala lemahnya sensitivitas sosial yang menghinggapi rakyat Indonesia adalah mutlak sebagai warisan karakter para pendahulu bangsa, atau saya menjadi pesimis dengan usaha pembekalan generasi muda melalu program pencerahan dan pendidikan agar bisa membawa bangsa ke arah yang lebih sejahtera. Akan tetapi lebih pada sisi interopeksi bahwa segala bentuk karakter negatif para senior agar jangan sampai tertular apalagi sengaja ditransfer kepada para generasi muda, sebab tidak bisa kita pungkiri bahwa pemuda sekarang adalah pemimpin di masa mendatang.

Anak bangsa dan kepedulian sosial :


Keberadaan kita di luar Negeri yang jauh dari medan kejadian sebenarnya bukan alasan yang logis untuk menjadikan kita pasif dalam menyikapi isu - isu tersebut, atau ketidak berdayaan kita dalam segi materi juga bukan alasan yang tepat untuk berdiam menggigit jari.

Bagaimana pun anak bangsa dituntut untuk ikut andil mengatasinya, apalagi eksistensi kita sebagai pelajar dan mahasiswa yang tidak lain sedang dalam proses kaderisasi. Paling tidak dengan turut memikirkan bentuk solusi untuk dapat menyelamatkan saudara - saudara sebangsa dari cengkraman wabah penyakit mematikan yang penyebabnya erat berhubungan dengan faktor lingkungan. bagaimana agar lingkungan hidup kita dengan berbagai macam kekayaan alamnya dapat dilestarikan untuk kemudian bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Ada tiga catatan yang bisa dijadikan sebagai start point wujud kepedulian kita ; pertama, upaya mengkaji akar permasalahan lemahnya sensitivitas sosial dan lingkungan pada sebagian rakyat Indonesia, kedua, mendiskusikannya sebagai upaya penguatan ide – ide bersama dalam penyelesaian masalah, dan ketiga mempublikasikan hasilnya melalui media nasional baik cetak maupun elektronik agar bisa dibaca kemudian dipahami oleh masyarakat luas.

Maka semua pun berharap jangan sampai setelah wabah sars, flu burung, busung lapar, polio, dan demam berdarah merenggut nyawa saudara – saudara sebangsa, muncul wabah - wabah penyakit lain yang lebih ganas dan mematikan akibat kecerobohan kita dalam berinteraksi dengan lingkungan atau akibat monopoli “ pengemban amanat “ terhadap kekayaan Negara yang dapat menimbulkan kemiskinan. Dalam al Qur`an telah lama ditegaskan larangan mengekspolitasi hak – hak orang lain dan larangan membuat kerusakan di muka bumi (Qs. as Syu’araa : 183)

Sampai kapankah kita akan bermimpi menjadi sebuah bangsa yang besar, bangsa yang termasuk dalam katagori “Baldatun Toyyibah wa Robbun Ghofur “ (Gemah ripah Loh Jinawi), sementara kita terus terbius dengan gaya hidup santai dan acuh tak acuh terhadap fenomena yang terjadi. Bukankah para founding father bangsa selalu berharap akan terciptanya Indonesia yang adil, Indonesia yang sejahtera, sebagai mana termaktub dalam salah satu butir pancasila sebagai landasan falsafah Negara. Kemakmuran tidak akan bisa diraih kecuali dengan kerja keras, keadilan sosial hanya akan menjadi wacana jika tidak direalisasikan dengan langkah nyata, untuk itulah “ peka “ dan “ peduli “ adalah kunci menuju ke sebuah penyelesaian. Wallahu A'lam


* Tulisan ini dipublikasikan di bulletin Ikrar Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia