Friday, November 7, 2008

Mahasiswa Tim-Teng dalam misi haji

Oleh: Arwani Syaerozi

Musim haji tahun 1429 H / 2008 M adalah kali kedua bagi saya dalam keterlibatan di misi haji Indonesia. Sebagai pelajar Indonesia di Maroko (salah satu negara Arab), kami diberi kesempatan untuk bergabung dan direkrut oleh kantor Teknis Urusan Haji (TUH) Departemen Agama RI ke dalam tim yang dipersiapkan untuk melayani dan membimbing jama'ah haji kita selama di tanah suci.

Keberadaan komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berada di Timur Tengah dan sekitarnya sangat signifikan untuk dilibatkan dalam aktivitas ini. Dengan kemampuan bahasa Arab dan penguasaan lapangan, para pelajar dan mahasiswa akan membantu Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) dalam menjalankan misinya. Tidak heran jika pada musim haji kali ini, porsi rekrutmen mahasiswa dan pelajar lebih banyak jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 220 orang, hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ketua panitia pada sambutannya saat penataran para petugas di hotel Medina Palace Jeddah.

Bahasa jendela dunia:

Adagium yang menegaskan bahwa "bahasa adalah jendela dunia" akan semakin nyata validitasnya saat musim haji tiba. Di Saudi Arabia yang merupakan negara berbahasa resmi Arab, jelas membutuhkan personal yang mumpuni dalam bahasa Arab untuk interaksi dan komunikasi dengan berbagai instansi, petugas, dan masyarakatnya. dengan menggunakan bahasa lokal tentunya akan lebih efektif dalam mengkomunikasikan kepentingan. Dari sisi ini, peran mahasiswa dan pelajar di Timur Tengah dan sekitarnya yang dilibatkan dalam tugas misi haji menjadi urgen dan signifikan.

Ada beberapa realitas yang saya alami dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri berkaitan dengan pentingnya rekrutmen mahasiswa dan pelajar kita di negara Arab dalam tugas misi haji, yaitu saat petugas-petugas inti dari Jakarta (baik instansi Depag maupun Depkes) yang kurang menguasai bahasa Arab berkomunikasi dengan petugas dan instansi Saudi Arabia, pada momen inilah peran mereka dibutuhkan sebagai penerjemah dan "penyambung lidah" antar kedua belah fihak.

Peran mahasiswa sangat menentukan:

Di samping itu, kondisi fisik para mahasiswa kita yang masih energik dikarenakan faktor usia yang rata-rata masih muda, jika kita bandingkan dengan petugas dari unsur lainnya, akan berpengaruh besar pada tingkat optimal kinerja petugas haji, di mana secara lapangan, kondisi udara dan kultur masyarakat Saudi Arabia jauh berbeda dengan di tanah air. Yang jelas, dengan fisik yang masih kuat dan daya pikir yang masih segar, tidak lah berlebihan jika para mahasiswa dan pelajar kita ini dianggap sebagai salah satu faktor pendukung suksesnya pelaksanaan misi haji Indonesia.

Melihat urgensitanya ini, kantor Teknis Urusan Haji (TUH) sebagai pihak perekrut para mahasiswa dan pelajar dalam setiap misi haji, diharapkan mampu memposisikan mereka secara proporsional baik berkaitan dengan kewajiban maupun haknya. Bagaimanapun, mereka adalah kaum terpelajar yang selalu menjaga profesionalisme dan berharap akan adanya transparansi dalam berbagai hal.